kumpulan cerpen

Rumah Tanpa Cermin

Rumah Tanpa Cermin

cerpen : Lan Fang

AKU mempunyai satu masalah dengan suamiku.
Satu masalah saja!
Dan ini hanya satu masalah kecil!
Masalah kecil sekali!

Sepanjang perkawinan kami, tidak pernah ada masalah yang serius. Kami tidak pernah bertengkar hebat. Karena suamiku sangat baik. Apa pun yang kukatakan dan yang kusuruh, selalu dilakukannya. Bukan karena suamiku bodoh atau tidak punya pemikiran lain. Tetapi karena apa yang kupikirkan selalu lebih benar dari yang dia pikirkan. Dan dia menerimanya.

Masalahnya hanyalah karena di rumah kami tidak ada cermin!

“Belilah cermin,” kataku.
“Tidak perlu.”
“Aku mau bercermin.”

“Untuk apa?” suamiku malah balik bertanya. “Kamu sudah cantik. Buang-buang uang saja,” sahutnya pendek tanpa melihatku.

Untuk masalah ini, aku menyetujui kata-katanya. Bukankah kata suamiku, aku sudah cantik? Untuk apa aku berkaca? Benar-benar hanya pemborosan yang tidak perlu.

Maka di rumah kami tidak pernah ada cermin.

Tetapi masalah cermin ini mulai mengusikku terus-menerus ketika beberapa waktu belakangan ini aku mulai mendengar kasak-kusuk dan bisik-bisik bersayap yang sampai di kisi-kisi jendela, di tingkap-tingkap atap, di sela-sela pintu, melalui titian angin yang lalu lalang.

“Dia tidak pernah bercermin…, jadi kita harus maklum…,” ada suara yang menggelitik telingaku.
“Rumah itu keramat. Ada penunggunya.”
“Tapi penunggunya nggak pernah ngaca sih…”

Rumahku terletak di sebuah kompleks perumahan. Posisinya berada di tikungan. Sehingga letaknya strategis. Banyak orang berjualan di jalan depan rumahku. Ada penjual es juice, bubur ayam, gorengan, nasi goreng, koran, atau cuma menjadi tempat nongkrong kongkouw-kongkouw sampai tengah malam.

Rumahku besar dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan sebuah ruang duduk yang dipakai untuk makan dan juga menonton televisi. Aku tidak punya dapur, karena aku tidak pernah memasak, paling-paling suamiku yang memasak mi instan untuk dirinya sendiri. Kupikir, lebih baik kami membeli bakso, nasi goreng, mi ayam, ketoprak atau nasi padang saja. Tidak perlu berbelanja, tidak perlu mencuci peralatan masak, dan lebih irit karena kami hidup berdua saja. Bukankah lebih efektif dan efesien?

Di bagian depan rumahku yang besar ini, ada sebuah kios kecil berukuran dua meter kali empat meter. Kios itu dahulu disewakan suamiku kepada seorang Cina dari Pontianak yang membuka warung mi ayam. Sebulannya lima ratus ribu. Tetapi bagiku itu terlalu sedikit. Apalagi ia pernah sekali meminta air untuk mencuci piring dari rumahku. Berapa tagihan air sebulan? Belum lagi ditambah tagihan listrik karena untuk menyedot air itu memakai pompa air yang memakai tenaga listrik. Coba! Kalau pernah sekali diberi air, maka itu akan jadi kebiasaan! Aku mulai berhitung dan menyuruh suamiku mencari penyewa lain saja. Suamiku menurut. Ia marah-marah dan menuding-nuding Cina Pontianak itu lalu menyegel kios itu. Aku puas, suamiku memang menurut kepadaku.

Penyewa kedua adalah teman suamiku sendiri. Karena teman, maka suamiku tidak memungut sewa, tetapi memakai sistem bagi hasil. Dan sebagai seorang teman, maka suamiku juga memercayakan pengelolaannya kepadanya. Ia menyetorkan uang pengelolaan enam ratus ribu rupiah setiap bulannya.

Tetapi aku mulai merasa uang enam ratus ribu rupiah itu kurang. Maka aku suka mengintip-ngintip dari balik jendela atau berjalan mengendap-ngendap di belakang kios itu untuk mencuri lihat atau mencuri dengar. Jangan-jangan ia mencurangi suamiku. Aku berjalan di belakang dinding kios sambil pura-pura membawa sapu, padahal telingaku menempel untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Setiap pagi, aku berpura-pura membeli koran untuk melihat jam berapa mereka membuka kios.

Ternyata ia suka terlambat membuka kios. Ia datang jam delapan lewat sepuluh menit atau jam delapan lewat lima belas menit. Bukankah seharusnya kios dibuka jam delapan? Coba dihitung, selisih sepuluh sampai lima belas menit itu bisa mengakibatkan kehilangan pelanggan yang mengakibatkan pendapatan menurun. Maka kulaporkan penemuanku itu kepada suamiku.

“Heh! Kenapa kamu suka terlambat membuka kios? Makanya uang setoran jadi sedikit! Buka jam delapan apa sih susahnya? Dasar pemalas!” kudengar suamiku menegur temannya di telepon dengan nada keras. Aku puas, orang salah memang harus ditegur bukan?

Tetapi pada suatu siang, saat aku sedang duduk makan di ruang tamu, mendadak saja aku melihat ia meludah ke jalanan. Benar-benar tidak tahu sopan santun! Dasar orang kampung! Sudah pasti aku tidak bisa membiarkan hal itu. Tidak seharusnya ia meludah ke jalanan. Bukankah ia tahu bahwa rumahku ada di belakang kios. Jadi aku bisa melihat ia meludah. Ia benar-benar tidak berpendidikan dan tidak tahu tatakrama!

Aku menceritakan hal itu kepada suamiku. Lalu suamiku berjalan menuju kios dan berkata kepada temannya. “Tadi kamu meludah ke jalanan, ya? Kamu tahu nggak kalau istriku sedang makan di belakang? Kan menjijikkan! Kamu nggak pernah sekolah ya? Yang tahu aturan dong…. Istriku itu intelek dan priyayi. Sana.., kamu minta maaf kepada istriku.”

Aku puas. Suamiku memang baik, bukan?

“Maafkan saya tadi meludah tidak sengaja, Mbak. Saya menderita sinusitis. Saya meludah ke jalanan, bukan ke halaman rumah. Dan saya tidak mempunyai mata di belakang kepala saya yang bisa menembus dinding kios untuk melihat mbak sedang makan di dalam rumah,” katanya ketika datang kepadaku.

Aku memasang senyum semanis mungkin. “Oh, tidak apa-apa… Lain kali jangan diulangi ya…,” jawabku seperti seorang ibu guru taman kanak-kanak yang sukses menyetrap muridnya karena meludah sembarangan.

Aku pikir, masalah meludah itu adalah masalah tatakrama. Di mana pun tidak seharusnya meludah. Itu tidak sopan. Tidak ada alasan bahwa ia menderita sinusitis, ia meludah ke jalanan atau ia tidak melihat aku ada di belakangnya. Selama ia berada di atas tanahku, maka ia harus meneguk kembali ludahnya.

Kalau mengenai masalah air. Di republik ini listrik naik, BBM naik, air naik, beras naik, gula naik, elpiji naik, semua naik, jadi wajar kalau aku tidak boleh berboros-boros untuk kepentingan orang lain. Semua itu bukan kepentinganku. Dan kamar mandi di rumahku, bukan toilet umum yang bisa dipakai semua orang untuk numpang cuci tangan, kencing atau berak. Aku bukan badan sosial yang menyediakan air gratis. Seharusnya orang-orang itu tahu diri.

Nah, bicara tentang masalah tahu diri, ternyata bukan cuma orang-orang itu yang tidak tahu diri. Ini lebih celaka lagi. Ternyata orang tua suamiku dan saudara suamiku juga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak tahu diri.

Di samping rumahku, di dalam halaman rumahku, orang tua suamiku membuka toko kelontongan kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Suatu hari, aku melihat adik suamiku mempergunakan komputer di toko itu.

“Lho, memakai komputer itu listriknya besar. Nanti siapa yang membayar listrik?” tanyaku.

Adik iparku terkejut. Tetapi kupikir wajar kalau hal itu kutanyakan. Sudah bagus, mertuaku kubiarkan membuka toko kelontongan di atas halaman rumahku, tanpa aku pungut sewa seperti kios. Mereka juga tidak pernah menyetor hasil penjualan toko kepadaku. Bukankah aku sudah cukup bertoleransi? Lalu kalau sekarang adik iparku seenaknya memakai komputer yang memakai tenaga listrik besar, itu siapa yang tidak tahu diri?

Sebetulnya mertuaku sudah dapat kiriman uang dari anak-anaknya yang lain. Lalu buat apa lagi membuka toko kelontongan di halamanku? Bukankah itu namanya orang tua serakah? Bukankah mereka itu orang tua benalu? Ini adalah rumahku. Mereka menumpang di atas halaman rumahku. Untuk apa? Mereka sudah mempunyai rumah sendiri, sudah mempunyai uang sendiri, dan masih ada anak-anak lain yang bisa dijadikan tumpangan. Apa namanya kalau bukan tidak tahu diri?

Tetapi ibu mertuaku menjawab, “Ibu tidak menumpang di sini. Ibu membuka toko di sini untuk mengisi waktu senggang. Tidak enak menganggur saja. Dan rumah ini dibeli anakku dari hasil kerja kerasnya di Amerika? Ia menabung dan memberikan uang itu kepada ibu. Lalu ibu membeli rumah ini. Waktu membeli pun masih ada kekurangan. Dan kekurangan itu, ibu yang menggenapinya.”

Ini lucu lagi! Apakah dipikir mertuaku aku perempuan bodoh? Rumah milik suamiku sudah pasti milikku juga. Dan sudah sewajarnya kalau seorang suami menyediakan rumah untuk istrinya. Bukan untuk orang tuanya. Lalu kalau ia mengatakan bahwa ia bukan menumpang, apa itu namanya berjualan di atas tanah halaman rumahku? Aku jadi merasa bahwa ia ingin menguasai rumahku.

Itu masih belum apa-apa. Setiap hari ia membawakan makanan untuk suamiku karena aku tidak pernah memasak. Lucu sekali! Buat apa ia mengurusi suamiku? Bukankah lebih baik ia mengurus suaminya sendiri!

Lalu kuceritakan kelucuan ibu mertuaku itu kepada suamiku. Suamiku juga ikut tertawa. Dia bilang, “Ibuku memang sudah sinting. Anaknya sudah kawin kok masih dicampuri.”

Besoknya kudengar ia bicara kepada ibunya. “Bu, jangan campuri urusan rumah tanggaku lagi. Biar saja, istriku tidak memasak kek, tidak membersihkan rumah kek, aku tidak pernah berkeberatan. Dan rumah ini adalah rumah istriku. Aku membelinya untuk istriku. Jadi terserah dia mau diapakan rumah ini. Ini semua miliknya!”

Walau suamiku sudah mengatakan itu, kurasa aku perlu mempertegasnya lagi kepada ibu mertuaku. “Sudah jelas ya, bu.., kalau rumah ini adalah rumah saya. Mau saya apakan itu terserah saya. Jadi kalau ibu mau numpang jualan, ya jualan saja di pinggir itu. Jangan macam-macam.”

Orang tua itu melongo dan aku langsung ngeloyor pergi.

“Jadi orang tua kok begitu? Sudah tua bangka hampir mencium tanah saja masih berpikir macam-macam untuk serakah. Sudah menumpang masih ingin menguasai. Kok tidak tahu malu?” kataku kepada suamiku.
Suamiku menjawab, “Iya, orang tuaku memang tidak tahu malu.”

Tetapi aku mendengar deru angin dari pagi ke pagi lagi mengatakan “perempuan itu tidak pernah mengaca, dia yang tidak tahu malu….” Kata-kata itu berpusar dan berputar-putar di halaman, di jalanan, di kios koran, di penjual nasi goreng, di penjual juice, sampai ke dalam rumah, ke dalam kamar, ke dalam kakus. Bahkan televisi, klakson mobil lewat, radio, semua seakan-akan menyerukan kalimat itu. Sampai-sampai semut, tawon, belalang, capung, alang-alang dan kerikil pun mengatakan hal yang sama.

Padahal aku melihat semua orang tersenyum ramah dan manis kepadaku. Bukankah mereka baik-baik dan ramah-ramah saja kepadaku? Tidak ada apa-apa yang mengharuskan aku untuk berkaca. Setiap saat, pemandangan yang sama terpampang di depanku. Sepeda motor lalu lalang, mobil berseliweran, matahari dan bulan yang sama, langit dan bumi yang sama.

Suatu hari, tiba-tiba saja ada seorang pedagang keliling lewat di depan rumah. Ia mengetuk pintu rumah. Ia membawa sebuah cermin besar berbingkai berwarna keemasan. Tetapi cermin itu hanya seperti kaca biasa yang tidak memantulkan apa-apa.

“Saya ingin menjual cermin ini. Kata orang-orang, rumah ini belum ada cerminnya. Karena itu saya menawarkannya kepada anda.”

“Oh, saya tidak memerlukan cermin,” jawabku.
“Tetapi ini adalah cermin istimewa.”
“Istimewanya apa?” tanyaku tertarik. “Cermin ini adalah cermin ajaib. Ia bisa menunjukkan wajah asli yang mengaca. Ini adalah cermin kejujuran.”
Oh! Luar biasa!

Sepertinya kali ini tidak ada alasan lagi bagi suamiku untuk menolak membeli cermin ini. Biar kubawa cermin ini kepada ibu mertuaku, penyewa kios di depan rumah, penjual juice, penjual koran, penjual nasi goreng, seluruh orang di kompleks perumahan ini. Biar kusuruh mereka semua berkaca. Biar terbukti bahwa ternyata wajah-wajah mereka itulah wajah-wajah yang busuk, sirik dan penuh iri dengki, terhadap wajahku yang cantik, anggun dan intelek ini. Bukankah suamiku tidak pernah berbohong kepadaku? Yang memerlukan kaca untuk bercermin itu mereka… orang-orang itu… karena mereka itulah pemilik wajah-wajah palsu… bukan aku!

Maka aku membeli cermin itu.

Aku pergi membawa cermin itu ke luar. Satu per satu di antara mereka kusuruh untuk berkaca di cermin kejujuran itu. Yang terpantul di sana adalah wajah lelah pemilik kios koran, wajah ramah si penjual juice buah, wajah lucu si penjual nasi goreng, wajah santun si penjual bubur ayam, wajah bersahabat teman suamiku, dan terakhir wajah teduh ibu mertuaku. Aku melihat mata-mata mereka jernih dan bening seperti awan dan air, kerut-kerut wajah karena dimakan usia, mulut tebal dan tipis dengan kata-kata bersayap seperti malaikat, senyum dan tawa yang membahana dari perasaan yang terdalam, bahkan terpantul kundalini di tengah dahi yang memancarkan aura rendah hati. Wajah-wajah mereka terang seperti matahari, teduh seperti lembayung, sejuk seperti angin.

Kupikir, pasti ada sesuatu yang tidak tepat pada cermin ini.
“Coba kamu yang berkaca,” aku menyuruh suamiku berkaca di cermin ini.

Kulihat pantulan wajah bodoh di sana. Mulut besar dengan lidah seperti pecut melecut-lecut, omong besar seperti kaki yang tidak berpijak pada bumi, hati besar seperti tangan yang menggenggam erat segumpal pasir, pikiran besar seperti anjing liar atau kucing kesasar. Dan… sepasang mata besar tanpa warna! Mata suamiku putih semua! Tidak ada iris lagi. Seperti penuh selaput katarak tebal. Seperti gumpalan asap yang membeku di biji matanya. Ia tidak melihat apa-apa. Pantas saja ia kelihatan begitu bodoh!

Tidak… tidak… suamiku tidak bodoh! Aku protes sendiri.
Ia adalah suami paling baik, paling cerdas, paling ganteng, paling kaya, paling penurut, paling setia, paling… semuanya yang paling! Tidak ada yang kurang dari suamiku.

Lalu apakah cermin ini salah?
Bagaimana dengan rupaku?
Aku harus tahu.
Lalu aku mengarahkan cermin itu ke wajahku dan… kulihat sesuatu membayang….

Suatu wajah judes yang mengandung hawa kebusukan yang menguap seperti bau bangkai. Wajah yang penuh ulat-ulat yang keluar dari pori-porinya. Menggeliat-geliat melata dari sisi ke sisi. Mataku yang sebesar bola kasti penuh aliran darah yang bisa meledak muncrat setiap saat. Rambut keritingku berdiri seperti hutan rimba tempat bersemayam para dedemit yang menyesatkan. Mulutku seperti kawah merapi lebar sampai ke pipi dan memuntahkan magma sumpah serapah seperti sampah. Lidahku seperti lidah ular bercabang dua di ujungnya. Menjilat ke kanan meludah ke kiri. Tubuhku lusuh kucel seperti jerangkong merambat berlomba lambat dengan siput. Kulit wajahku keras tebal seperti kulit kerang.

Kenapa buruk sekali? Aku terkejut.
Aku mencoba tersenyum. Mungkin cermin ini salah….

Kulihat senyum Judas Iskariot ketika mencium Yesus di taman Getsemani sebagai tanda kepada pasukan Romawi. Yesus ditangkap, disiksa, disalib, karena sebuah ciuman berpura-pura. Dan itu yang tampak memantul di kaca. Senyuman culas, sirik, pengkhianat, pendusta yang nista! Senyum setan berbisa! Senyum gendruwo berwajah sesuatu!

Aku membanting cermin itu sampai berderai berkeping-keping.
“Kurang ajar! Penjual cermin itu penipu! Ia menjual cermin palsu kepadaku! Ini cermin kebohongan! Semua yang terlihat di sana salah! Cermin ini salah!”Suamiku menjawab, “Sudah kubilang, kamu tidak perlu cermin….”***


2 Komentar »

  1. ini alur tema nya yang mana ya hhhhh

    Komentar oleh selvi — September 25, 2013 @ 7:34 am

  2. dowo banget
    ————————————-\

    /—————————————-

    Komentar oleh heri — April 14, 2014 @ 8:06 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: