kumpulan cerpen

Malaikat Simpanan

Malaikat Simpanan

cerpen Aris Kurniawan

TENGAH malam itu dia tergeragap bangun. Dering ponsel yang mengagetkannya dia sambar. Sial, sambungan terputus begitu dia mau memijit tombol jawab. Terkantuk-kantuk dia melihat layar ponselnya, mencari register, nomor siapa yang menghubunginya malam-malam. Sinar dari layar ponsel menusuk bola matanya. Uh, tidak ada nomor, dia menggerutu kesal. Rasa kesal itu membuatnya tidak bisa memicingkan mata sampai pagi tiba.

Sepanjang terjaga itu dia menerka-nerka siapa gerangan yang mau menghubunginya. Apa hanya orang iseng mau menganggu tidurku saja? Pikirnya. Beberapa wajah melintas di kepalanya. Riko, lelaki yang pernah menolongnya (atau menjerumuskannya?) memasuki kehidupan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Zayd, laki-laki yang senang memeras uangnya untuk mabuk-mabukan, membeli ganja. Mike, bos perusahaan tempatnya bekerja sekaligus suaminya. Dan, Mira, istri pertama Mike yang selalu berusaha membunuhnya. Lalu Ryan, Narti, Karsih, dan Desi.

Dari mereka ini, rasanya Mira yang paling mungkin. Tapi dari mana dia tahu nomor teleponku? Pikirnya lagi. Sudah empat bulan terakhir dia melenyapkan diri dari mereka, menepi di kota kecil ini untuk bersembunyi dari kejaran mereka sekaligus gemerlap kehidupan kota dengan segala kesemuan dan kekejamannya. Dibantu Marsus, pembantunya yang pintar menjahit dan membuat kerajinan tangan tas sulam, dia membuka usaha kerajinan tas sulam. Separo tabungannya dia bongkar untuk modal. Dia membeli tanah dan membangun rumah, untuk tinggal dan tempat memproduksi tas sulam. Dia membeli dua unit mesin jahit dan segenap bahan dasar membuat tas sulam, seperti benang, gunting, lem, dan cat.

Dia mengganti nomor telepon untuk memutus komunikasi dengan semua orang-orang yang pernah dikenalnya selama tinggal di kota. Tentu sebelum memutuskan tinggal di kota kecil di tepi pantai ini dia sudah mempertimbangkan banyak hal.

Semula dia mau memilih di kota kelahirannya, tapi jelas ini bukan pilihan yang aman. Beberapa temannya sudah mengetahui kota kelahirannya. Bahkan anak buah Mike pernah singgah ke sana. Zayd bisa dengan mudah menemukannya. Dia juga pernah mau memilih Yogya, Solo, Cimahi, Bogor, Sampang, sejumlah kota di Bali dan Lombok. Satu per satu kota tersebut dia hapus dalam daftar kota-kota yang akan dijadikan tempat tinggal dan persembunyiannya. Hampir semua kota itu sudah pernah dia ceritakan pada teman-temannya. Mereka juga tahu dia memiliki kisah-kisah khusus di beberapa kota tersebut. Kota-kota di Sumatera dari awal tidak pernah masuk pertimbangannya. Di sana orang-orangnya kasar. Ini bukan hanya cerita yang didengarnya, tapi dia sendiri pernah membuktikannya. Dia tahu ini subjektif, tapi begitu saja bawah sadarnya menolak kota-kota itu.

Kota yang akhirnya dengan mantap dia pilih memang tidak seromantis Yogya, Solo, atau Cimahi. Hawanya cukup panas di siang hari. Masyarakatnya pun agak asing karena sebelumnya dia tidak pernah punya teman yang berasal dari kota ini. Bahasanya terdengar aneh di telinga. Termasuk lagu-lagunya yang sering diputar keras-keras saban hari atau saat ada hajatan. Syukurlah perlahan-lahan dia mulai bisa beradaptasi. Setelah satu bulan kedatangannya dia sudah punya tetangga dan teman orang sini. Mereka yang kemudian menjadi pekerja di usaha kerajinan tas sulam di rumahnya. Dia harus menanggalkan segala jejak identitas yang menempel di tubuhnya, termasuk gayanya bicara.

Dia berlatih menimba air sumur, menyapu pekarangan, membakar sampah. Kulitnya yang terang dengan cepat berubah jadi kusam. Marsus sampai pangling dan menatap entah dengan pikiran seperti apa. “Kulitmu, Bu…” ujar Marsus.

“Bagus kan, Sus? Jadi gak kelihatan kan?” ucapnya, “Pekerjaan ini lama sekali kutinggalkan, hampir saja aku lupa,” dia tersenyum.

Hanya Marsus yang menyimpan semua rahasianya. Gadis lugu itu sudah seperti malaikat baginya. Pada orang-orang Marsus yang selalu menceritakan bahwa majikannya datang dari kota. “Ibu pengen mengembangkan usahanya di kota ini,” terang Marsus.

Dengan kalimat-kalimat yang sudah dihapalnya dia membuat cerita tentang bagaimana majikannya membuka usaha di kota kecil ini. “Seluruh keluarganya mati dalam kecelakaan pesawat terbang. Dia pengen menghindari semua yang mengingatkannya pada keluarga. Karena itu membuatnya stres dan terus dirundung kehilangan dan kesedihan. Nah, siapa saja boleh belajar menyulam di sini,” kata Marsus, “Dengan senang hati ibu mengajar kalian,” ini yang selalu menjadi kalimat terakhir Marsus setiap menjawab pertanyaan orang tentang latar belakang majikannya.

“Terima kasih, Marsus,” gumam dia yang merasa beruntung memiliki Marsus. Seandainya tidak ada Marsus, mungkin dia tidak bisa pergi dari kota itu. Kota yang telah banyak memberinya pengalaman mengecap manis dan pahitnya hidup. Pada malam hari dia belajar menyulam pada Marsus, sedangkan Marsus menghapal kalimat-kalimat yang didiktekan dia untuk menjawab pertanyaan orang-orang tentang muasalnya. Setiap hari dia mengawasi para pekerjanya menyulam tas sambil ngobrol dengan mereka.

Banyak cerita yang dia dengar para pekerjanya yang kebanyakan bersuamikan buruh nelayan. Mulai tentang anak-anak remaja mereka yang sudah pintar pacaran sampai suami mereka yang sering disemprot juragan ikan. Tentu semua dilakukan seusai dia menyapu halaman, menimba air di sumur, dan memasak di tungku. Marsus sendiri giat menyulam, menghitung tas-tas sulaman yang selesai dikerjakan, mengepaknya. Dan melakukan pembukuan.

***

Dia tidak bisa memejamkan mata. Padahal tubuhnya sangat lelah setelah seharian menyulam dan meladeni obrolan para pekerjanya. Wajah ke empat orang itu berlintasan terus menerus di kepalanya. Bahkan seakan dia bisa meraba gurat bibir Riko, mengusap rambut Mira yang berganti warna saban pekan, menghirup embusan asap rokok Zayd, dan menyeka kacamata Mike. Secara bersilangan mereka bagai menjelma nyata. “Lisa, aku yakin kamu bisa menjalankan pekerjaan ini dengan baik,” itu suara Riko waktu pertama laki-laki itu menjerumuskannya di rumah bordil.

Jujur, waktu itu dia harus berterima kasih pada Riko. Laki-laki itu telah merenggutnya dari kekejaman Karni dan Sudira. Sepasang suami istri yang memperkerjakannya sebagai pembantu. Wajahnya bengkak, sekujur tubuhnya biru-biru bekas siksaan, telapak tangan dan kakinya lengket oleh penyakit kutu air saat dia minggat melalui jendela, terhempas ke trotoar.

Riko yang menolong dan merawatnya. Di rumah laki-laki itu dia disembuhkan. Wajahnya yang cantik dan badannya yang ramping indah tidak membuat Riko menidurinya meski kesempatan untuk itu terbuka luas. “Aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta kamu bekerja yang baik untukku.”

Belakangan dia baru mengerti kalimat ini. Dan dia melakukannya dengan kebimbangan yang makin lama makin menipis. Dia bertemu dengan banyak orang di rumah bordil itu. Ada yang mirip malaikat, tapi lebih banyak yang menyerupai iblis. Zayd mungkin penjelmaan iblis seperti yang pernah dia dengar dari ustad dulu, tapi ini lebih buruk. Dia tidak hanya mengisap sekujur tubuhnya, tapi juga memeras keringatnya. Riko tak berkutik menghadapi Zayd, preman di wilayah itu. Rumah bordil pernah dibuat berantakan oleh Zayd dan anak buahnya.

Sementara itu, seorang malaikat yang dia maksud adalah Mike. Semula dia menganggap ini terlalu mengada-ada. Mike membawa dia pergi dari rumah bordil itu. Tentu setelah Mike membayar sejumlah uang pada Riko. Laki-laki itu menjadikan dia sebagai pegawai di perusahaan spa miliknya, sebelum beberapa bulan kemudian menikahinya, menjadikan dia istri kelima. Dia merasa hidupnya cukup lebih baik. Istri-istri Mike yang lain bisa menerimanya dengan baik meski karena kepatuhan yang terpaksa pada Mike. Hanya Mira yang tidak pernah rela dan ini secara terang-terangan ditunjukkan di depan Mike.

Bagi dia menghadapi Mira dan Ryan, anak sulungnya, jauh lebih buruk ketimbang menghadapi Zayd. Laki-laki ini gampang ditundukkan dengan tubuh dan kelembutan yang dia miliki. Bahkan dengan Zayd kadang dia dapat saling memanfaatkan. Sedangkan Mira dan Ryan benar-benar bagai penjelmaan iblis.

Suatu malam Mira dengan Ryan dan dua orang kepercayaan mereka memasuki kamarnya. Saat itu Mike sedang keluar kota. Dia belum lagi sadar manakala mereka tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya. Mereka hampir saja menghabisi nyawanya apabila Karsih dan Desi, dua orang istri Mike yang lain, terlambat sedikit saja mendobrak pintu kamar dan menyelamatkannya. Seketika terjadi pertengkaran dan pergumulan sengit. Dia tak akan lupa, pergumulan itu menyisakan bekas luka di punggung dan tengkuknya. Selalu terbayang sorot mata kecewa dan geram terpancar dari mata Mira. Juga makian itu, “Sundal kampung, enyahlah kalian dari sini…”. Peristiwa itu makin memperburuk hubungan dia dengan Mira. Tetapi tumbuh semacam senasib sepenangungan dengan Karsih, Desi dan Narti. Meski komunikasi antara dia dengan mereka pun tidak menjadi lebih baik. Narti, istri keempat Mike, yang datang lebih kemudian segera membantunya: menghibur dan menyodorkan segelas air.

“Kalau Bos tidak ada, kamu tidur di kamarku saja, dik,” ucap Narti, memberi saran. Dia sebenarnya sudah menduga peristiwa ini bakal menimpa dirinya. Maka dia selalu waspada. Mengunci rapat-rapat kamar setiap hendak tidur. Dia heran bagaimana Mira dan Ryan bisa membuka pintu kamarnya. Peristiwa ini membekaskan trauma di benaknya. Tapi dia tak hendak menceritakan peristiwa ini pada Mike karena menurutnya hanya akan membuatnya situasi makin tidak nyaman. Dia merencanakan pergi meninggalkan hidup seperti ini.

Niat ini makin menguat setelah Mike akhirnya tahu juga peristiwa itu yang menyebabkan pertengkaran besar dengan Mira. Mike menggampar Mira disusul lengkingan perempuan itu. Dia hanya mengintip dari balik gorden dengan perasaan kacau dan dada bergemuruh tak keruan.

“Begini balasanmu, Mike?” ujar Mira.

“Kebaikan apa? Ini hasil keringatku juga!”

Situasi makin tidak nyaman. Setiap gerak geriknya seakan terus diperhatikan Mira dan orang-orang kepercayaannya. “Kita harus pergi, Sus,” hanya pada Marsus dia bisa bercerita tentang kegundahan hatinya, tentang keresahannya. Dia memang menyayangi Mike. Tapi dia harus lebih menyayangi dirinya sendiri dengan cara melepaskan diri dari kehidupan yang menurutnya tidak normal ini. “Kamu tidak perlu ketakutan seperti itu, Lisa. Dan jangan pernah berpikir meninggalkanku. Kamulah malaikatku, malaikat yang selalu kusimpan,” kalimat Mike ini hanya mampu menghiburnya sesaat.

***

Di luar hari telah terang. Ibu-ibu yang bekerja menyulam mulai berdatangan. Bau amis dari ikan laut yang dijemur sampai ke kamarnya. Tapi ini tidak mengganggunya. Dia melihat Marsus yang hanya berbalut handuk masuk kamar, berganti pakaian, berdandan.

Dia tetap telungkup di ranjang. Air matanya telah menggenang, jatuh bergulir di pipinya. Dia kecewa pada dirinya sendiri gagal mencegah peristiwa itu. Terbayang lagi di pelupuk matanya, malam itu Mira dibantu Ryan dan beberapa orang kepercayananya berhasil membunuh Mike setelah mereka membantai Narti saat keduanya tengah terlelap berpelukan. Dia hanya mampu melihat dari balik gorden dengan linangan air mata dan tubuh lemas bagai tidak bertulang. Dia melihat dengan jelas tubuh Mike dan Narti kelojotan meregang nyawa. Mira lalu menyatukan mayat keduanya dalam koper. Sebelum kehadirannya diketahui oleh mereka, dengan sisa tenaga dan kesadarannya dia lalu kabur bersama Marsus.

Air matanya makin deras mengalir membasahi bantal. Dia tak mau bangkit dan menghadap cermin. Dia tidak memiliki nyali melihat wajahnya sendiri. Dia merasa begitu bersalah. Merasa menjadi orang yang paling egois. Dia merasa sekarang sudah terlambat untuk memperbaiki diri.***

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: