kumpulan cerpen

Agustus 8, 2008

Kosong

Filed under: kosong — dikipedia @ 10:17 am

Kosong

Cerpen dicky arsyul s

Alkisah ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak. Sebuah keluarga kecil, namun keramaian di dalamnya tidak mencerminkan sebuah keluarga kecil, dan keramaiannya pun sama sekali tidak menggambarkan gelak tawa kebahagiaan, keramaian di setiap harinya selalu berujung pada suara tangisan, tangisan seorang ibu, tangisan seorang ibu yang menangisi perilaku suaminya yang mulai gila karena kemiskinan. Hingga akhirnya suaminya tak pernah kembali lagi ke rumah itu.

Sang anak tumbuh tanpa kasih sayang dari sang ayah, sang anak merasa sangat rapuh dan akhirnya luluh lantah karena harus menyerah pada keadaan. Ingin sekali dia menangis di depan ibunya sembari menyatakan betapa hancurnya hatinya, hancurnya hati seorang anak karena kehilangan ayahnya, namun sang anak bersikeras menahan tangis di depan ibunya, karena ia tahu bahwa jika ibunya tahu ia menangis maka tangisan lain akan menyusul. Sosok pria yang seharusnya menjadi suri tauladan baginya, tapi kini pergi entah kemana, entah dia masih hidup atau tidak, entah dia sudah kaya atau justru menjadi gelandangan, entah dia sudah memiliki istri lagi atau dia duduk di pinggiran jalan dan sendirian.

Ibunya selalu berpesan supaya sang anak menjadi seorang pria yang berhasil dan sukses, sang ibu selalu berpesan untuk selalu melihat ke bawah bahwa banyak orang yang lebih menderita dari mereka dan tidak melihat ke atas, yaitu tempat bagi orang-orang yang lebih beruntung dari mereka. Sebuah pesan yang sangat klise memang, tapi selalu mengena di hati sang anak. Sang anak melalui hari-hari tanpa kehadiran dan peranan sang ayah, beberapa kali ia terjatuh, menangis, bangkit lalu terjatuh kembali, menangis, dan bangkit lagi, pola-pola kehidupan seperti itu nampak sangat tak asing lagi bagi sang anak. Apakah memalukan bila seorang anak laki-laki yang beranjak remaja menangis?

Tergantung apa yang ia tangisi.

Sang anak memiliki motivasi yang sangat besar untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, ia ingin membahagiakan ibunya yang selama ini menghidupi anak sematawayangnya dengan kedua tangannya, yang tak kenal lelah dan pedih dalam menjalani hidup, dimana ia sebagai wanita di tuntut menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah. Wanita yang tetesan air matanya merupakan intan yang amat berkilauan dan selalu menuntun arahnya berjalan. Selain itu ia memiliki motivasi lain, yaitu ia ingin mencari ayahnya dan memeluk ayahnya selayaknya seorang anak memeluk ayahnya di pagi hari.

Sang anak pun tumbuh menjadi seorang yang sangat ambisius dalam meraih cita-citanya. Hobinya pada bidang ekonomi perdagangan dan teknologi terus ia geluti, tak ayal ia pun menjadi siswa paling berprestasi di sekolahnya dan akhirnya ia dapat mencapai cita-citanya sebagai seorang pengusaha kaya dan menjadi seorang inovator di bidang teknologi, kesibukan di setiap harinya menjadikan ia sangat berpengalaman, namun sangat di sayangkan, ia sudah tidak menjadi dirinya sendiri, ia hanya menjadi “binatang ekonomi” dan “mesin teknologi”.

Suatu hari, saat sang anak yang kini telah menjadi seorang eksekutif muda mengendarai mobilnya untuk pulang, ia melihat seorang pria tua dengan paras yang sangat ia kenali dan tentunya ia rindukan!

Ia bertemu ayahnya yang selama ini telah tiada. Ia pun keluar dan menyapa pria tua itu, namun ternyata ayahnya sedang dalam keadaan mabuk. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengenali anaknya yang telah lama ia tinggalkan. Ayahnya meminta untuk di antarkan pulang, tanpa banyak berbasa basi ia pun mengiyakan permintaan ayahnya.

Di sepanjang jalan pemabuk itu tak henti-hentinya memberi informasi dimana letak rumahnya. Ketika melihat sebuah pusat perbelanjaan elektronik, ia berteriak bahwa itu adalah milik menantunya, saat melewati mobil box dengan membawa kulkas, ia berteriak lagi bahwa kulkas itu akan di bawa ke rumahnya. Ketika melewati sebuah rumah mewah, ia berteriak “nah, itulah rumahku!”

Ketika sampai ke dekat rumah itu, muncul sebuah mobil BMW, yang memasuki halaman dan teras rumah mewah itu. Dari dalam mobil keluar seorang wanita cantik. Pemabuk itu berbisik pada anaknya bahwa itu adalah istrinya. Kemudian keluar lagi seorang pria tampan dengan jasnya. Pemabuk itu langsung menunjuk-nunjuk dan berteriak…”itu aku!!!”

Jika disimak sekilas, peristiwa tadi hanyalah sebuah anekdot yang di buat untuk sebuah lelucon. Namun anaknya justru berpikiran lain, ia kembali mengeluarkan airmatanya yang telah lama terpendam.

Sang anak melihat itu sebagai sebuah kegetiran. Seperti perpanjangan impian orang yang tak berdaya. Dalam perjuangan hidupnya terbayang hamparan kegagalan. Mungkin itulah yang menjadikan dia pemabuk. Hanya dalam keadaan mabuk itulah ia bisa menyalurkan hasratnya memiliki pusat perbelanjaan elektronik, kulkas, rumah mewah, istri cantik dan tampang keren. Dan yang menjadikan sang anak semakin bercucuran air mata adalah karena semua hasrat yang telah ayahnya tadi sebutkan sama seperti yang ia miliki saat ini.

12 Komentar »

  1. aku sudah terlalu banyak melihat airmata yg membasahi tanah ini selama19 tahun. kisah itu, ya kisah itu mengingatkan aku tentang sebuah kisah..

    dunia ini memang butuh sebuah perubahan teman..

    Komentar oleh lulabi — Agustus 8, 2008 @ 10:54 am

  2. hohohoh….bagus2..
    ada sesuatu yg bisa d sampaikan…kisah na ampir sama ama kisahku,,kehilangan seorang sosok ayah,,hohoh..

    keep going dude!!

    mnh mah da sagala bener..soalna anak nabi!hahahaha…

    yuuu

    Komentar oleh dhenia — Agustus 17, 2008 @ 2:36 pm

  3. hahaha…

    evenstar was giving a standing avocation to for dikipedia…

    keren lah,
    anak2 jd pada kereatif.
    pd jd penulis semuah..
    hahahai

    km g minat jd photografer dik!
    hihi,
    seru siah!!!

    Komentar oleh cuomo — Agustus 20, 2008 @ 1:17 pm

  4. aduh sory uy salah nulis,

    di ralat ahk

    “evenstar was giving a standing avocation for dikipedia”

    Komentar oleh cuomo — Agustus 20, 2008 @ 1:18 pm

  5. yang bner donk mr. angga ah!
    nulis bhs inggris kok salah…
    hahahahahahaha

    Komentar oleh dikipedia — Agustus 20, 2008 @ 2:01 pm

  6. @ dhenia

    sama halnya dgn dirimu,aku pun hampir kehilangan sosok seorang ayah!

    Komentar oleh dikipedia — Agustus 20, 2008 @ 2:11 pm

  7. dik,klo ng delete komen gmn?

    Komentar oleh cuomo — Agustus 21, 2008 @ 8:24 am

  8. nghapus mah hrs ama aq ga….
    emank mw ngapus yg mana?

    Komentar oleh dikipedia — Agustus 22, 2008 @ 2:09 am

  9. owh shit!
    so pathetic..

    Komentar oleh idoremember — Agustus 22, 2008 @ 9:37 am

  10. ahk,
    bt-bt-bt-bt-bt-bt ahk.
    mun ku urg bisa t?

    Komentar oleh cuomo — Agustus 22, 2008 @ 2:33 pm

  11. @ cuomo

    gak bisa donk cuomo…this’s my blog!
    hahahahahahaha

    Komentar oleh dikipedia — Agustus 23, 2008 @ 2:43 am

  12. q loch rindu ma umik aq tulisin cerpenx po o

    Komentar oleh nazar — April 9, 2010 @ 4:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: