<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kumpulan cerpen</title>
	<atom:link href="http://dikipedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dikipedia.wordpress.com</link>
	<description>cerpen cerpen cerpen</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Nov 2011 11:34:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dikipedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kumpulan cerpen</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dikipedia.wordpress.com/osd.xml" title="kumpulan cerpen" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dikipedia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kibarkan Kembali Benderamu</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2009/06/14/kibarkan-kembali-benderamu/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2009/06/14/kibarkan-kembali-benderamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 04:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kibarkan kembali benderamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Kibarkan Kembali Benderamu Oleh dicky arsyul s Lama sudah kita lupa, lama sudah kita lengah, lama sudah kita terbuai, dan lama sudah kita terperangkap. Kita lupa akan jiwa nasionalisme, kita lengah akan masuknya kapitalisme, kita terbuai dengan indahnya rayuan liberalisme, dan bahkan kita telah terperangkap dalam individualisme yang sama sekali bukan ciri dari kehidupan bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=111&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kibarkan Kembali Benderamu</p>
<p>Oleh dicky arsyul s</p>
<p>Lama sudah kita lupa, lama sudah kita lengah, lama sudah kita terbuai, dan lama sudah kita terperangkap. Kita lupa akan jiwa nasionalisme, kita lengah akan masuknya kapitalisme, kita terbuai dengan indahnya rayuan liberalisme, dan bahkan kita telah terperangkap dalam individualisme yang sama sekali bukan ciri dari kehidupan bangsa ini.<br />
<span id="more-111"></span><br />
Seberapa cintakah kita pada negri ini?apakah MerahPutih dipekarangan rumah kita berkibar setiap hari?dapat di pastikan bahwa kita telah lama menguburkan jiwa nasionalisme kita dalam dalam, bahkan ketika pihak lain mencoba untuk menggerogoti organ organ tubuh kita, jiwa yang terkubur itu belum cukup kuat untuk bangkit. Apa yang yang terjadi dengan jiwa ini?mengapa jiwa ini dapat terkubur begitu dalam?padahal jika melihat kembali perjuangan kakek buyut kita dalam memerdekakan negri ini, jiwa ini sangat diagung agungkan, jiwa ini merupakan bambu runcing yang menghujam setiap bentuk penjajahan, jiwa ini merupakan meriam yang telah meledakan semangat juang para pemuda saat itu, dan jiwa ini merupakan harimau yang mengaum saat proklamasi kemerdekaan berkumandang.</p>
<p>Banyak hal yang terjadi selama 64 tahun kebelakang ini, sebagian besar berpendapat bahwa kita telah mengenyam kemerdekaan selama itu, sebagian kecil lagi berpendapat justru hingga saat ini kita masih belum bisa memerdekakan diri. Apapun pendapat yang berkembang itu sah sah saja tergantung bagaimana kita memaknai kata merdeka itu sendiri. Namun jika kita masih merasa bangga memakai peralatan olahraga dengan brand asing tersohor, atau meminum minuman berlabelkan bahasa asing, maka jangan pernah berkata bahwa kita telah merdeka, karena sesungguhnya kita masih terjajah oleh sesuatu yang dinamakan kapitalisme.</p>
<p>Pasar bebas dan globalisasi industri merupakan isu yang sedang hangat hangatnya diperbincangkan, banyak sekali pihak yang menanti kedatangan kedua hal tersebut dengan harapan bahwa bisnis mereka akan semakin maju, kekayaan materil mereka akan tumbuh pesat seperti lumut dimusim hujan, namun sayang mereka tidak pernah berpikir akan dampak yang terjadi di negri ini apabila kedua hal tersebut terjadi, masyarakat kita akan semakin memupuk jiwa konsumtif mereka, hukum hukum perdagangan akan semakin terlihat abu abu, dan kapal besar ini akan seperti kehilangan nahkodanya, segala sesuatunya akan semakin sulit untuk dkendalikan.</p>
<p>Saat ini, detik ini, yang ada dipikiran kita mungkin hanya bagaimana cara memperbanyak jumlah pundi pundi uang kita, bagaimana supaya hidup sejahtera, dan bahagia selamanya, tidakah terlintas untuk memikirkan nasib tetangga sebelah kita?pernahkah terpikir bahwa diujung jalan rumah kita terdapat keluarga yang sedang kelaparan?atau dipemukiman seberang komplek kita terdapat sekelompok anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya?sedangkan kita saat ini sedang asik berbelanja, jalan jalan, dan merencanakan sebuah pesta meriah untuk malam ini, padahal tepat didepan tong sampah rumah kita terdapat seorang ayah yang sedang berusaha sekuat tenaga berharap menemukan beberapa sampah plastik hanya untuk membeli sebungkus makanan untuk keluarganya yang sedang mengerang lapar dirumah yang beratapkan kardus usang. Inikah ciri sosial bangsa kita?inikah bukti materi toleransi, tolong menolong, tepo seliro yang kita pelajari dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi?</p>
<p>Jika saat ini kita tersadar akan sesuatu, sesuatu untuk lebih mencintai tanah air ini, tanah air yang menjadi tempat kita tumbuh berkembang, maka itu adalah tanda bangkitnya jiwa nasionalisme kita yang telah lama terkubur, jika kita merasa mencintai negri ini dan kita bangga memakai produk nasional maka MerahPutih telah menyelimuti jantung ini, jika kita semakin peduli akan kondisi teman atau saudara terdekat kita maka MerahPutih yang menyelimuti jantung kita akan mulai berkibar kembali. Ambilah bendera MerahPutih kita, lalu pasangkan tepat didepan pekarangan rumah, jangan biarkan apapun menghalangi kibarnya, biarkan setiap mata memandang dan mengagumi kegagahannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=111&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2009/06/14/kibarkan-kembali-benderamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hujan</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2009/01/31/hujan/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2009/01/31/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 08:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[hujan oleh ido Hujan deras telah mengguyur kota Bandung lebih dari dua jam. Tidak ada tanda tanda dari langit untuk berhenti menumpahkan air. Masih mendung. Setyo berdiri menunggu dengan kesal di halte bis di jalan Dipati Ukur. Di Halte itu hanya ada dia dan dua orang calon penumpang lainnya. Begitu sepi tidak seperti hari-hari biasa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=105&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">hujan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">oleh ido</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-CA">Hujan deras telah mengguyur kota Bandung lebih dari dua jam. Tidak ada tanda tanda dari langit untuk berhenti menumpahkan air. Masih mendung. Setyo berdiri menunggu dengan kesal di halte bis di jalan Dipati Ukur. Di Halte itu hanya ada dia dan dua orang calon penumpang lainnya. Begitu sepi tidak seperti hari-hari biasa. Ia menyalakan rokok Marlboronya.<br />
<span id="more-105"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Sial! Kemana perginya bis-bis bodoh itu?”,umpatnya dalam hati. Ia telah dua jam lebih menunggu bis. Namun tak kunjung datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Mereka bilang ada banjir besar. Kupikir bis itu takkan lewat kesini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">Suara itu membuyarkan pikiran Setyo yang sedang membayangkan sebuah bis yang datang disupiri oleh seorang bidadari yang cantik namun berseragam Damri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Benarkah? Siapa yang bilang?” Setyo bertanya kepada suara yang tadi. Suara itu milik seorang anak sma bernama Astrid yang sedang duduk dibangku halte.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Apakah kau tak percaya padaku?”,tanya Astrid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Bukan begitu.”, Setyo menghisap dalam- dalam rokoknya. Ia sedang malas mengobrol apalagi dengan anak sma. “Tapi.. ah sudahlah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Sepertinya kau sudah kehilangan kepercayaan terhadap apapun.<span> </span>Apa aku benar?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Jika aku bilang bahwa aku ini hanya ada didalam pikiranmu. Apakah kau akan percaya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Tentu saja jika ada fakta-fakta tak terbantahkan mengenai itu semua. Seperti ketika kau menjelaskan hujan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Menurutmu hujan itu apa?”,tanya Astrid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Hujan adalah presipitasi atau turunan cairan dari angkasa. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tapi maaf aku malas beromong kosong dengan anak kecil.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Benar-benar penjelasan yang menarik.” Astrid menarik nafasnya. “Hmm.. aku selalu suka bau hujan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Itu adalah <em>petrichor</em>, minyak yang diproduksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh batuan dan tanah dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Kau ini tahu banyak hal ya? Eh namamu Setyo kan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">Setyo kaget. Kenapa anak itu bisa mengetahui namanya. “Apa kau mengenalku? Kenapa kau bisa tahu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Karena aku percaya kamu bernama Setyo.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Aku tidak mengerti”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Aku juga. Yang perlu kamu lakukan adalah percaya. Itulah yang selalu dilakukan oleh para pawang hujan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Apakah ketika aku percaya bahwa aku bisa menghentikan hujan maka aku akan dapat menghentikan hujan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Tentu saja”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">Entah kenapa Setyo memejamkan matanya berharap ketika ia membuka mata hujan akan berhenti. Setelah ia membuka mata ia kaget setengah mati. Hujan berhenti. Benar-benar berhenti. Ada milyaran tetes hujan namun semuanya tidak ada yang jatuh ke tanah. Mereka diam. Sepertinya waktu telah menghentikan hujan untuk bergerak. Setyo masih tercengang namun Astrid diam saja. Dua orang lain yang ada di halte itu pun terkejut dan mencoba meraih tetesan hujan-hujan itu dan semuanya pecah di genggaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“A..a apa yang kau lakukan??”,tanya Setyo kepada Astrid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Aku? Kaulah yang melakukannya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Ta..tapi aku tak mengerti..”,Setyo memegang kedua kepalanya yang terlalu pusing untuk memikirkan hal aneh ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Tidak semua hal di dunia ini butuh penjelasan.”,Astrid menepuk tangannya sekali dan setiap tetes hujan kembali menetes ke tanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Hei..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Suatu saat kau akan mengerti”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">Astrid meraih tangan Setyo membawanya ke jalan raya dan menari-nari dibawah hujan layaknya orang india. Mereka melakukan putaran-putaran sambil tertawa. Berbicara sesekali namun tertawa lagi dan sesaat itu juga sesosok bayangan besar menyambar mereka berdua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN-CA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN-CA">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">Hujan telah berhenti. Halte itu kini menjadi begitu ramai. Ada dua mobil polisi, satu ambulan, satu mobil statsiun tv lokal, sebuah bis dan orang-orang sekitar yang ingin tahu ada apa. Terlihat seorang polisi sedang menanyai dua orang yang sebelumnya menunggu bis di halte yang sama dengan Setyo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Jadi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-CA">“Entahlah.Aku pun tak mengerti. Kupikir ia hanya mahasiswa biasa yang sedang menunggu bis seperti aku dan temanku. Namun orang itu tiba-tiba berbicara sendiri lalu menari-nari di jalan dan akhirnya tertabrak bis. Semuanya terjadi begitu cepat.”</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=105&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2009/01/31/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradoks Pagi</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/09/23/paradoks-pagi/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/09/23/paradoks-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 12:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[paradoks pagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Paradoks Pagi Oleh dicky arsyul s Pagi yang indah untuk sebuah awal yang terlihat akan sangat menyenangkan nantinya. Pagi yang indah di awal bulan juni, ditemani alunan lagu “semenjak ada dirimu” dari andity . Benar-benar pagi yang menyenangkan dan tak kan terlupakan, bahkan hingga kini. Pagi seperti itu adalah pagi yang indah, sungguh benar, itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=101&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Paradoks Pagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Oleh dicky arsyul s</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Pagi yang indah untuk sebuah awal yang terlihat akan sangat menyenangkan nantinya. Pagi yang indah<span> </span>di awal bulan juni, ditemani alunan lagu “semenjak ada dirimu” dari andity . Benar-benar pagi yang menyenangkan dan tak kan terlupakan, bahkan hingga kini. <span id="more-101"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Pagi seperti itu adalah pagi yang indah, sungguh benar, itu indah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Bahkan hingga suasana pagi itu telah menjadi sebuah rutinitas, pagi itu tidak kehilangan pesonanya, tidak sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">“waduh, kuliah pagi nih! Mana telat bangun, tugas belom, dosen jahat…hah!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Tapi pagi tetap indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sekali pun pagi ini aku tidak di beri uang saku, tapi tak apa, toh pagi ini masih tetap indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sekali pun di rumah tak ada makanan untuk sarapan, tapi tak apa, toh pagi ini masih tetap indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sekali pun telah melewati malam dengan pertengkaran, tapi tak apa, toh pagi ini masih saja tetap indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Setahun lebih waktu berlalu bersama pagi yang indah, tetap indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Hingga saatnya tiba di pertengahan bulan September, pagi itu akhirnya harus hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Hilang, dan benar-benar hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Tahukah kamu rasanya merubuhkan sebuah gedung yang kamu bangun dengan dua pasang tangan dan kini harus rubuh oleh dua pasang tangan yang sama?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">It’s so pathetic!</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=101&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/09/23/paradoks-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kosong</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/kosong/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 10:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kosong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Kosong Cerpen dicky arsyul s Alkisah ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak. Sebuah keluarga kecil, namun keramaian di dalamnya tidak mencerminkan sebuah keluarga kecil, dan keramaiannya pun sama sekali tidak menggambarkan gelak tawa kebahagiaan, keramaian di setiap harinya selalu berujung pada suara tangisan, tangisan seorang ibu, tangisan seorang ibu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=89&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Kosong</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Cerpen dicky arsyul s</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Alkisah ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak. Sebuah keluarga kecil, namun keramaian di dalamnya tidak mencerminkan sebuah keluarga kecil, dan keramaiannya pun sama sekali tidak menggambarkan gelak tawa kebahagiaan, keramaian di setiap harinya selalu berujung pada suara tangisan, tangisan seorang ibu, tangisan seorang ibu yang menangisi perilaku suaminya yang mulai gila karena kemiskinan. Hingga akhirnya suaminya tak pernah kembali lagi ke rumah itu.<span id="more-89"></span></p>
<p class="MsoNormal">Sang anak tumbuh tanpa kasih sayang dari sang ayah, sang anak merasa sangat rapuh dan akhirnya luluh lantah karena harus menyerah pada keadaan. Ingin sekali dia menangis di depan ibunya sembari menyatakan betapa hancurnya hatinya, hancurnya hati seorang anak karena kehilangan ayahnya, namun sang anak bersikeras menahan tangis di depan ibunya, karena ia tahu bahwa jika ibunya tahu ia menangis maka tangisan lain akan menyusul. Sosok pria yang seharusnya menjadi suri tauladan baginya, tapi kini pergi entah kemana, entah dia masih hidup atau tidak, entah dia sudah kaya atau justru menjadi gelandangan, entah dia sudah memiliki istri lagi atau dia duduk di pinggiran jalan dan sendirian.</p>
<p class="MsoNormal">Ibunya selalu berpesan supaya sang anak menjadi seorang pria yang berhasil dan sukses, sang ibu selalu berpesan untuk selalu melihat ke bawah bahwa banyak orang yang lebih menderita dari mereka dan tidak melihat ke atas, yaitu tempat bagi orang-orang yang lebih beruntung dari mereka. Sebuah pesan yang sangat klise memang, tapi selalu mengena di hati sang anak. Sang anak melalui hari-hari tanpa kehadiran dan peranan sang ayah, beberapa kali ia terjatuh, menangis, bangkit lalu terjatuh kembali, menangis, dan bangkit lagi, pola-pola kehidupan seperti itu nampak sangat tak asing lagi bagi sang anak. Apakah memalukan bila seorang anak laki-laki yang beranjak remaja menangis?</p>
<p class="MsoNormal">Tergantung apa yang ia tangisi.</p>
<p class="MsoNormal">Sang anak memiliki motivasi yang sangat besar untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, ia ingin membahagiakan ibunya yang selama ini menghidupi anak sematawayangnya dengan kedua tangannya, yang tak kenal lelah dan pedih dalam menjalani hidup, dimana ia sebagai wanita di tuntut menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah. Wanita yang tetesan air matanya merupakan intan yang amat berkilauan dan selalu menuntun arahnya berjalan. Selain itu ia memiliki motivasi lain, yaitu ia ingin mencari ayahnya dan memeluk ayahnya selayaknya seorang anak memeluk ayahnya di pagi hari.</p>
<p class="MsoNormal">Sang anak pun tumbuh menjadi seorang yang sangat ambisius dalam meraih cita-citanya. Hobinya pada bidang ekonomi perdagangan dan teknologi terus ia geluti, tak ayal ia pun menjadi siswa paling berprestasi di sekolahnya dan akhirnya ia dapat mencapai cita-citanya sebagai seorang pengusaha kaya dan menjadi seorang inovator di bidang teknologi, kesibukan di setiap harinya menjadikan ia sangat berpengalaman, namun sangat di sayangkan, ia<span> </span>sudah tidak menjadi dirinya sendiri, ia hanya menjadi “binatang ekonomi” dan “mesin teknologi”.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu hari, saat sang anak yang kini telah menjadi seorang eksekutif muda mengendarai mobilnya untuk pulang, ia melihat seorang pria tua dengan paras yang sangat ia kenali dan tentunya ia rindukan!</p>
<p class="MsoNormal">Ia bertemu ayahnya yang selama ini telah tiada. Ia pun keluar dan menyapa pria tua itu, namun ternyata ayahnya sedang dalam keadaan mabuk. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengenali anaknya yang telah lama ia tinggalkan. Ayahnya meminta untuk di antarkan pulang, tanpa banyak berbasa basi ia pun mengiyakan permintaan ayahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Di sepanjang jalan pemabuk itu tak henti-hentinya memberi informasi dimana letak rumahnya. Ketika melihat sebuah pusat perbelanjaan elektronik, ia berteriak bahwa itu adalah milik menantunya, saat melewati mobil box dengan membawa kulkas, ia berteriak lagi bahwa kulkas itu akan di bawa ke rumahnya. Ketika melewati sebuah rumah mewah, ia berteriak “nah, itulah rumahku!”</p>
<p class="MsoNormal">Ketika sampai ke dekat rumah itu, muncul sebuah mobil BMW, yang memasuki halaman dan teras rumah mewah itu. Dari dalam mobil keluar seorang wanita cantik. Pemabuk itu berbisik pada anaknya bahwa itu adalah istrinya. Kemudian keluar lagi seorang pria tampan dengan jasnya. Pemabuk itu langsung menunjuk-nunjuk dan berteriak…”itu aku!!!”</p>
<p class="MsoNormal">Jika disimak sekilas, peristiwa tadi hanyalah sebuah anekdot yang di buat untuk sebuah lelucon. Namun anaknya justru berpikiran lain, ia kembali mengeluarkan airmatanya yang telah lama terpendam.</p>
<p class="MsoNormal">Sang anak melihat itu sebagai sebuah kegetiran. Seperti perpanjangan impian orang yang tak berdaya. Dalam perjuangan hidupnya terbayang hamparan kegagalan. Mungkin itulah yang menjadikan dia pemabuk. Hanya dalam keadaan mabuk itulah ia bisa menyalurkan hasratnya memiliki pusat perbelanjaan elektronik, kulkas, rumah mewah, istri cantik dan tampang keren. Dan yang menjadikan sang anak semakin bercucuran air mata adalah karena semua hasrat yang telah ayahnya tadi sebutkan sama seperti yang ia miliki saat ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/89/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/89/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=89&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Presiden Buatan Kauzein</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/presiden-buatan-kauzein/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/presiden-buatan-kauzein/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 10:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[presiden buatan kauzein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[PRESIDEN buatan KAUZEIN *.*Dhenia’s shortStory*.* Hari ini tidak seperti hari-hari di masa lalu.Hari ini sangat jauh berubah. Seorang ibu rumah tangga baru saja pulang dari pasar dengan wajah lesu. Hari ini ibu itu berbelanja bahan makanan seadanya untuk keluarganya di rumah. Dulu dengan uang 10.000wein* (wein* mata uang Negara Kauzein) ibu itu dapat membeli daging [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=86&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">PRESIDEN buatan KAUZEIN</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">*.*Dhenia’s  <em>short</em><strong>Story</strong>*.*</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Hari ini</span> tidak seperti hari-hari di masa lalu.Hari ini sangat jauh berubah. Seorang ibu rumah tangga baru saja pulang dari pasar dengan wajah lesu. Hari ini ibu itu berbelanja bahan makanan seadanya untuk keluarganya di rumah. Dulu dengan uang 10.000<em>wein*</em> (<em>wein*</em> <span class="yshortcuts">mata uang Negara</span> Kauzein) ibu itu dapat membeli daging sapi,sayur mayur,tahu-tempe,dan segelas minuman jeruk segar. Tetapi Kauzein telah beubah. Sekarang 10.000wein hanya cukup untuk tahu-tempe saja. Itu pun dengan jumlah yang sedikit.<span id="more-86"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kauzein adalah negara entah berantah dengan kekacauan luar biasa. Harga bahan pokok sangat tinggi, begitu pula dengan harga bahan bakar,hanya orang-orang kaya saja yang mampu membeli bahan bakar dan memakai kendaraan.Kekacauan dimana-mana,korupsi merajalela,ekonomi sangat lemah,embargo di berbagai sektor dan rakyatnya sudah tidak percaya lagi dengan kata-kata “<span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Keadilan</span>”. Sungguh ironis sekali. Apa yang menjadi penyebab semua kekacauan ini? Masyarakat Kauzein percaya akar dari semua masalah ini adalah buruknya seorang Presiden dalam menangani pemerintahan. Rakyatnya selalu salah dalam memilih Presiden. Selama ini Presiden dianggap kurang bekapasitas dan hanya diberi waktu 2 tahun saja untuk memerintah sebelum didemo oleh rakyat dan diturunkan dengan paksa, baik itu melalui kudeta atau demo besar-besaran. Selama ini Presiden yang terpilih berasal dari kalangan militer, Politisi korupsi, dan anak dari orang besar di masa lalu. Oleh karena itu rakyat menganggap Presiden selama ini tidak nyambung dengan kondisi negara Kauzein.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">40 tahun yang lalu,Sebuah ide revolusioner muncul, atau dengan kata lain sebuah ide yang aneh. Kauzein butuh seorang pemimpin yang menguasai keahlian yang lengkap untuk menjadi seorang Presiden.Oleh karena itu rakyat Kauzein sepakat untuk membuat seorang Presiden.Rakyat Kauzein percaya bila hal ini dilakukan maka akan muncul sosok Presiden yang mumpuni dan dipercaya dapat memperbaiki keadaan Kauzein dan membuat semuanya menjadi lebih baik. Perjanjian yang ditandatangani oleh anggota dewan,menteri-menteri, perwakilan rakyat dan Presiden pada saat itu pun dibuat. Isinya adalah “Pada saat Presiden buatan Kauzein ini telah cukup umur dan telah menguasai keahlian-keahlian yang cukup untuk memimpin, Maka seluruh rakyat Kauzein sepakat untuk mengangkat orang tersebut menjadi Presiden Kauzein.” Maka proyek itu pun dilakukan. Presiden buatan maksudnya adalah mendidik seorang anak Kauzein dari sejak bayi. Dimulai dari pemilihan kedua orang tuanya yang memiliki kepintaran diatas rata-rata. Lalu sang Ibu diberi asupan gizi yang baik agar bayinya nanti menjadi bayi yang sehat. <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Bayi</span> itu pun lahir, bayi itu pun diberi ASI pertama oleh sang Ibu. Kehidupan untuk menjadi seorang Presiden pun dimulai. Dia dibesarkan dari keluarga ternama dan kaya. <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Pendidikan</span> yang dijalaninya pun luar biasa. Pria ini didik untuk menguasai ilmu politik, keagamaan, manajemen, ekonomi, hukum, Pemrintahan, kepemimpinan, pangan, dll. Pria ini pun di biasakan untuk hidup dikalangan orang-orang elit pemerintahan. Pria ini pun dituntut untuk melihat kebobrokan Pemerintahan Kauzein dan melihat penderitaan rakyatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Besok pria ini genap berumur 40 tahun dan besok pria ini akan menjadi Presiden. Rakyat Kauzein sudah tidak sabar untuk melihat Presiden buatan ini untuk segera menjabat sebagai Presiden. Hari Esok pun tiba,dan pria ini sangat tegang karena akan memikul beban berat untuk menjadi seorang Presiden.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pria itu pun telah menjadi Presiden sekarang, Kauzein bersorak gembira dan semua harapan bertumpu padanya. Benar saja, setelah 1 tahun masa jabatannya,keadaan mulai menjadi lebih baik. Ekonomi membaik,korupsi berkurang,dan rakyatnya mulai berkembang. Rakyat sekarang benar-benar mengidolakannya,kepopulerannya luar biasa.Melebihi ketenaran penyanyi dangdut sexi yang selama ini sangat di elukan oleh rakyat Kauzein. Tetapi rakyat Kauzein tidak menyadari apa yang dirasakan oleh sang Presiden saat ini dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sang Presiden mengalami stress berat karena telah bekerja keras dan tidak mendapat isirahat yang cukup selama 1 tahun ini. 2-4 tahun keadaan berubah drastis, Kauzein malah bertambah kacau dari sebelumnya dan sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akhirnya Presiden buatan itu turun juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rakyat Kauzein berpikir apa yang salah?padahal Presiden ini sudah dibekali ilmu yang cukup. Mereka pun menyadari kesalahan yang sangat fatal. Sang Presiden tidak diajarkan untuk bekerja keras dan menahan tekanan yang luar biasa. Sang Presiden buatan selama ini menadapatkan semuanya dengan mudah dan tanpa harus bersusah payah dalam mendapatkan semua keinginannya. Sang Presiden hidup dalam kalangan elit pemerintahan. Kehidupan istimewa ini menjadikan sang Presiden memiliki kepercayaan diri tinggi dan yakin dapat mengubah negara ini menjadi lebih baik dengan ilmu-ilmu yang telah dia kuasai. Itulah yang menjadi penyebab utama kegagalan Presiden buatan. Percuma saja memiliki ilmu tinggi tetapi didapat bukan karena hasil keringat sendiri. Rakyat Kauzein pun mengerti bahwa manusia hanyalah manusia,tidak ada satupun manusia yang sempurna. Ciptaan manusia pasti memiliki kelamahan. Hanya Tuhanlah yang memiliki kesempurnaan sejati. <span class="yshortcuts">Negara</span> itupun sekarang benar-benar hancur. Rakyatnya sengsara. Apakah Indonesia akan menjadi seperti itu?kita harap tidak,marilah kita bangkit dari kesalahan selama ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">_ fin _</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=86&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/presiden-buatan-kauzein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Dan Bumi</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/aku-dan-bumi/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/aku-dan-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 08:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Dan Bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Aku Dan Bumi Cerpen dicky arsyul s Hari ini seperti biasa aku berangkat menuju kampus tempatku menimba sesuatu hal yang disebut ilmu, entah itu nyata atau tidak, tapi tiap kali aku memacu sepeda motorku menuju kampus, aku merasa ada sesuatu yang aku ingkari dan aku berpikir mungkin itu ilmu, tapi semoga saja bukan. Karena kampusku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=83&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Aku Dan Bumi</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Cerpen dicky arsyul s</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hari ini seperti biasa aku berangkat menuju kampus tempatku menimba sesuatu hal yang disebut ilmu, entah itu nyata atau tidak, tapi tiap kali aku memacu sepeda motorku menuju kampus, aku merasa ada sesuatu yang aku ingkari dan aku berpikir mungkin itu ilmu, tapi semoga saja bukan.<span id="more-83"></span></p>
<p class="MsoNormal">Karena kampusku berada di daerah yang tinggi maka sepanjang perjalanan aku selalu di suguhi oleh hijaunya pepohonan, tapi sayang pohon-pohon itu tidak memberikan nafas yang menyegarkan bagi sekitarnya, atau mungkin nafas pohon-pohon itu terkalahkan oleh gaungan mesin-mesin yang berlalu lalang dan mengeluarkan asap yang sangat pekat seperti para serdadu Israel saat mereka sedang menyapu warga-warga palestin di jalur gaza dengan senjata api. Hari itu terasa sangat panas meskipun aku berada di sekitar pepohonan, lalu aku menanggahkan kepalaku keatas dan aku melihat langit yang begitu biru, namun tidak sedikitpun mengurangi panasnya hari ini. Sesampainya di kampus aku melihat jam, dan melihat bahwa kuliah baru akan di mulai 30menit lagi, ah,masih ada waktu untuk menyalakan sebatang rokok pikirku, maka aku pun menyalakan Marlboro light kesukaanku, kelelahan karena perjalanan menuju kampus pun sirna kala hisapan pertama aku hembuskan, rokok memang tidak pernah bersahabat dengan paru-paru, namun rokok bagiku selalu bersahabat dengan kretivitas dan imaginasi.</p>
<p class="MsoNormal">Aku kembali melihat langit yang cerah namun tetap panas, tiba-tiba saja muncul suara yang entah darimana asalnya “lihatlah aku, aku sudah tua, renta, dan tak berdaya…aku adalah tempat kalian bernaung, seluruh variabel-variabel dalam diriku merupakan hidup kalian, tapi mengapa kalian justru membuatku semakin tak berdaya dan lemas?tahukah kalian betapa tersiksanya aku dengan dengan setiap hembusan rokok yang kalian hisap?kalian bahkan tak kenal aku! Kalian hanyalah makhluk-makhluk perusak seperti yang telah setan katakan! Atau mungkin kalian sendirilah setan-setan itu!ketuhuilah wahai anak cucu adam, jika aku tiada maka kalian pun akan binasa, bahkan anak cucu kalian pun tak kan pernah tercatat dalam buku sejarah peradaban. Kau hanyalah setitik noda dalam rangkaian paragraf-paragraf kenistaan, cobalah untuk menjadi setitik kebijaksanaan dan hapuslah paragraf-paragraf itu, andai kau tahu, aku sangat mencintai adam dan hawa, maka seharusnya aku pun mencintai kalian, tapi aku tak akan pernah mencintai sesuatu yang tidak mencintaiku. Karena aku hanyalah bumi….”</p>
<p class="MsoNormal">Mendengar semua itu aku hanya terdiam, dan lambat laun suara itu pun menghilang, berubah menjadi kebisingan seperti biasanya.</p>
<p class="MsoNormal">Aku pun tersadar bahwa aku tak lebih mulia dari seekor anjing tanah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=83&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/08/aku-dan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angri &amp; Lessi</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/04/angri-lessi/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/04/angri-lessi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 05:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[angri & lessi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[ANGRI &#38; LESSI *.*Dhenia’s shortStory*.* “ Hei!!Kau membangunkanku! ” Teriak seseorang yang merasa terganggu ketenanganya..sebut saja namanya Angri.. “Maaf..aku tidak pernah berniat untuk membuatmu bangun..karena yang aku lakukan saat ini dan selama ini hanyalah diam..aku tidak berbuat apa-apa..” jawab pria pendiam yang berada disebelahnya menjawab sambil ketakutan..sebut saja namanya Lessi “nah,,,,Itulah yang membuatku bangun,karena sikapmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=80&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">ANGRI &amp; LESSI</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">*.*Dhenia’s <em>short</em><strong>Story</strong>*.*</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“ Hei!!Kau membangunkanku! ” Teriak seseorang yang merasa terganggu ketenanganya..sebut saja namanya Angri..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Maaf..aku tidak pernah berniat untuk membuatmu bangun..karena yang aku lakukan saat ini dan selama ini hanyalah diam..aku tidak berbuat apa-apa..” jawab pria pendiam yang berada disebelahnya menjawab sambil ketakutan..sebut saja namanya Lessi<span id="more-80"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“nah,,,,Itulah yang membuatku bangun,karena sikapmu yang selalu diam itu aku bangun dari tidurku yang nyenyak ..“</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Apa aku salah bila harus berdiam diri?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tidak salah apabila kamu diam di saat yang tepat,tetapi yang kau lakukan hanya diam..itu saja..sekarang coba kamu lihat apa yang terjadi melalui 2 jendela bulat itu..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku sudah mendengar apa yang sedang terjadi,tetapi aku belum berani melihatnya..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu Angri menjadi kesal dan menarik Lessi untuk melihat jendela bulat itu..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sekarang lihatlah!Dasar kau pengecut!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.”Lessi seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan tubuhnya pun bergetar keras..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Lihatlah dia,Wanita malang yang terus disiksa setiap hari Cuma gara-gara Terlambat menyajikan secangkir teh untuk pria Bejad itu&#8230;Apa kau akan diam saja sekarang??”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tidak!!aku tidak mau melihat lagi!!sudah hentikan!!!”Lessi pun berteriak dengan penuh emosi sehingga air mata pun menetes seperti air hujan yang lama terkurung hitamnya awan..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Hahaha&#8230;”Angri tiba-tiba tertawa..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Apa yang kau tertawakan?Apa kau tertawa karena melihat aku menagis?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tidak,aku menertawaimu karena kamu memang benar-benar pengecut..yang kamu lakukan hanya menangis dan emosi saja..tanpa melakukan apapun..apakah itu akan membuat semuanya menjadi lebih baik?Tidak sama sekali..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku marah!!aku ingin berontak!!tetapi aku adalah aku..aku hanya akan berdiam diri sampai semuanya akan membaik dengan sendirinya..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Meskipun wanita yang disiksa hingga memar-memar dan berdarah itu adalah ibumu&#8230;?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ya,,aku akan tetap diam&#8230;dan kenapa kau hanya bisa menertawakanku?sedangkan kau sendiri hanya diam saja!!Wanita itu adalah ibuku..dan juga Ibumu juga&#8230;.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu suasana pun berubah..Angri tertegun dan menjadi lebih diam dari biasanya..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara suasana semakin memburuk..Lemparan piring dan benda-benda lain seakan bertebangan..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pria itu mulai lepas kendali..memukuli tiada henti&#8230;Kemarahannya membuat tetangga sekitar menjadi cemas dan berusaha membuka pintu rumah karena teriakan wanita malang yang tidak berdaya itu..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika para tetangga berhasil mendobrak pintu&#8230;semuanya sudah terlambat&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wanita malang itu sudah tergeletak dengan bersimbah darah&#8230;Suami yang kejam dan pemarah itu telah membunuh Istrinya dengan sadis&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Warga pun segera menangkap pria gila itu dan segera membawanya ke pihak yang berwajib&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada saat itu,munculah seorang anak berusia 19 tahun menuruni tangga dengan lemah dan menangis karena melihat ibunya telah tiada&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Lihatlah&#8230;.” Lessi berbicara sambil menangisi keadaan..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku tau&#8230;kita berdua memang pengecut&#8230;aku adalah kemarahan..tetapi itu tidak mengubah keadaan,sebagai hati manusia,aku hanya bisa terbangun saat semuanya mulai melewati batas..tetapi aku adalah aku&#8230;aku tetaplah hati yang dimiliki oleh seorang pria lemah yang pengecut..”jawab Angri</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“ya..aku terdiam karena aku hanyalah kesabaran..Aku memang pengecut&#8230;aku sangat tidak berdaya melihat ayahku membabi buta seperti itu&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada saat pertengkaran  hati itu saling menyalahkan,seorang pria paruh baya dengan kharisma nya yang terpancar menghampiri anak itu..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kemarilah nak..Aku tau perasaanmu sangat tidak baik&#8230;melihat Ibu sendiri dibunuh oleh ayah sendiri&#8230;tetapi ingatlah,ini sudah terjadi dan sudah merupakan takdir yang harus kamu jalani..Tangisan adalah luapan hati..menangis lah bila menurutmu dapat membuat kamu nyaman dan lebih baik..Jangan salahkan dirimu,itu tidak akan mengubah keadaan..tetapi malah mengubah hatimu menjadi busuk.Berdoalah atas kematian ibumu,Karena tidak ada yang dapat kau perbuat dan kau ubah sekarang..Kamu sekarang sedang terjatuh..dan itu baik karena kamu bisa belajar untuk berdiri dengan kaki yang lebih baik sekarang..Kamu harus tetap kuat,saat – saat seperti ini kamu akan merasa sangat dekat dengan Tuhan&#8230;” Pria itu Menutup semua ucapannya dengan bijak sambil tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pria itu pun balik tersenyum,lalu dia beranjak untuk mengusap rambut Ibunya yang telah tiada&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">_ fin _</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=80&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/08/04/angri-lessi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Negeri Tikus</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/26/kisah-negeri-tikus/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/26/kisah-negeri-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 03:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah negeri tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Negeri Tikus Cerpen Dicky Arsyul S Suatu hari, di pagi hari yang begitu indah dimana burung-burung sedang asik besahutan dan bumi mengeluarkan aroma tanah yang menyegarkan, ada seorang anak berumur sekitar 11-13tahun mengajukan beberapa pertanyaan pada ayahnya “yah,mengapa negeri kita di sebut negeri tikus?” Ayahnya menjawab “karena konon kabarnya penghuni negeri kita zaman dahulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=77&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Kisah Negeri Tikus</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Cerpen Dicky Arsyul S</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Suatu hari, di pagi hari yang begitu indah dimana burung-burung sedang asik besahutan dan bumi mengeluarkan aroma tanah yang menyegarkan, ada seorang anak berumur sekitar 11-13tahun mengajukan beberapa pertanyaan pada ayahnya “yah,mengapa negeri kita di sebut negeri tikus?”<span id="more-77"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Ayahnya menjawab “karena konon kabarnya penghuni negeri kita zaman dahulu adalah kerajaan tikus, nak..”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak tidak cukup puas atas jawaban ayahnya, maka ia pun kembali mengajukan pertanyaan “tapi apa mungkin di tanah yang begitu subur dimana banyak terdapat hutan tropis seperti negeri kita, dahulu di kuasai oleh kerajaan tikus? Bukankah tikus tikus hidup di ladang, sawah, kebun, atau got?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Ayahnya mulai mengamati anaknya dan mencoba seserius mungkin menjawab pertanyaan anaknya “ayah tidak tahu dengan jelas nak, karena cerita itu hanya sebuah mitos, Tapi mungkin saja tikus-tikus yang sekarang hidupnya berbeda dengan tikus-tikus zaman dahulu…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak akhirnya pergi dengan perasaan kurang puas, ia penasaran akan mitos tentang negeri tikus yang menurut cerita sekarang adalah negerinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Keesokan harinya ketika akan berangkat sekolah, seperti biasa sang anak meminta uang jajannya untuk hari ini, dan ibunya pun memberi selembar uang sepuluh ribu rupiah dan lima belas ribu rupiah untuk ditabungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“jangan lupa tabungkan ya nak…” sang ibu mengingatkan anaknya, meskipun dia percaya uang itu pasti di tabungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“iya bu…” jawab sang anak sambil berlari keluar rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Setibanya di sekolah anak itu belajar seperti hari-hari biasanya, namun kali ini pikirannya sedang tidak pada ruang kelas, melainkan melayang layang di antara beberapa pertanyaan tentang negeri tikus, hingga akhirnya bel tanda berakhirnya jam pelajaran pun berbunyi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Anak itu pun pulang dengan pikiran yang masih melayang layang, dia berjalan dengan pandangan menanggah ke atas, terlihat sekali sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba di tengah perjalanan ada seorang tukang pulung yang memperhatikan anak itu, dan nampaknya tukang pulung itu tahu bahwa sang anak sedang memikirkan sesuatu, akhirnya sang pemulung pun menghampiri sang anak dan bertanya “hey, nak! Berjalanlah hati-hati, pandanganmu harus lurus kedepan saat berjalan, tetapi pandanganmu tadi justru tertuju keatas. Apa sesungguhnya kamu pikirkan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak kaget karena tiba-tiba ada pemulung didepannya, dan pemulung itu bertanya tentang apa yang ia pikirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Akhirnya sang anak angkat bicara “oh,maaf pak…saya memang sedang memikirkan sesuatu, saya sedang memikirkan tentang mitos negeri tikus yang saat ini konon wilayahnya adalah wilayah Negara kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Seperti yang sudah tahu apa yang akan anak itu tanyakan, sang pemulung mengajak anak itu untuk duduk-duduk dulu mendengarkan ceritanya sambil jarinya menunjuk suatu tempat dibawah pohon beringin yang rindang di taman kota “ayo kita duduk dulu sebentar untuk mendengarkan ceritaku, itu pun kalau kamu tak keberatan dan tidak menganggapku penjahat.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak berpikir sejenak lalu menjawab “mmmhh…okey”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Lalu kedua insan itu pun berjalan menghampiri pohon beringin yang tadi di tunjuk oleh si pemulung, dan merekapun mulai duduk, sang anak siap untuk mendengarkan cerita pemulung itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“Kau benar-benar ingin tahu tentang negeri tikus?” Tanya sang pemulung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“ya,saya ingin tahu sekali!”jawab sang anak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“baiklah,mitos tentang negeri kita yang dulunya merupakan negeri tikus memang benar adanya. Dahulu wilayah Negara kita memang merupakan kekuasaan tikus, namun tikus disini bukan tikus seperti yang kamu ketahui sekarang, tikus zaman dulu tak berbeda dengan manusia, memiliki bentuk tubuh seperti manusia, muka seperti manusia, dan sebagian sifat mereka pun seperti manusia. Tapi ada yang membedakan antara mereka dan manusia, mereka adalah kaum sangat gemar untuk mengambil sesuatu yang bukan hak mereka, sebagaimana tikus zaman sekarang, mereka adalah kaum yang sangat hina, bahkan anak anak keturunan mereka pun sudah di ajarkan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak mereka, mereka adalah pembohong ulung, mereka adalah manusia pengerat, mereka adalah mahluk yang sangat licik. Sehingga pada masa itu mereka menjadi penguasa wilayah ini, dan mereka berkuasa cukup lama, dan manusia-manusia biasa yang benar-benar berhati manusia merupakan budak mereka, hingga akhirnya kerajaan mereka runtuh oleh kudeta pasukan budak yang merupakan manusia biasa dan telah bosan menjadi budak para manusia tikus, maka kerajaan tikus pun hancur dan seluruh budak menjadi bebas. Namun raja manusia tikus meninggalkan pesan bahwa suatu saat anak cucu mereka akan kembali menguasai negeri yang kaya ini. Begitulah ceritanya nak.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak terkesima untuk sesaat, kemudian tersadar kembali dan bertanya “jadi, masihkan ada anak cucu kerajaan manusia tikus di negeri ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“tentu saja ada, bahkan mereka sedang memulai strategi mereka untuk kembali menguasai negeri ini” jelas sang pemulung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“basmi saja mereka seperti dulu, pemerintah pasti bisa melakukannya!” Tanya sang anak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“tidak, mereka tidak bisa…tidakkah kau lihat bagaimana kondisi negeri ini? Cacut marut oleh perilaku bangsanya sendiri, para petinggi Negara yang korupsi, disuap, main wanita, berdusta, mengobral janji, dan lain sebagainya. Mereka merupakan anak cucu kerajaan manusia tikus!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“jadi, semua orang di negeri ini adalah anak cucu manusia tikus?” anak itu kembali bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“tidak, tidak semua…negeri ini masih menyimpan anak cucu pasukan manusia yang berkudeta” jelas sang pemulung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“lalu, bapak masuk yang mana?” anak itu kembali bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“saya adalah keturunan budak masa lalu, para manusia biasa yang lebih baik sengsara daripada hidup bergelimang harta yang bukan haknya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“bagaimana dengan saya?tentu saja saya akan termasuk keturunan para pasukan kudeta masa lalu kan?pantas saja akhir-akhir ini saya selalu memikirkan tentang mitos ini!!!hahahahaha…” cerocos anak itu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Dengan tenang sang pemulung menjawab “kamu adalah salah satu keturunan dari manusia tikus itu, itu terlihat dari tawamu tadi, tawa seorang tikus pengerat! terlebih lagi itu terlihat dari perilakumu, tidakah kamu sadar bahwa uang pemberian ibumu yang seharusnya kamu tabungkan justru kamu pakai untuk jajanmu?!tikus…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak “……..”</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=77&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/26/kisah-negeri-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pria Angin</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/25/pria-angin/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/25/pria-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 10:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[pria angin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Pria Angin Cerpen Dicky Arsyul S Wanita itu menangis, dia sakit hati. Sore itu ketika cahaya matahari berpulang dan terkalahkan oleh senja, seorang wanita berdiri di atas sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput pendek sebagai alasnya. Dia menangis…dia menangisi seorang pria angin, tahukah kalian siapa pria angin itu? Seperti apakah wujudnya? Bagaimana perilakunya? Apa yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=72&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Pria Angin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Cerpen Dicky Arsyul S</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Wanita itu menangis, dia sakit hati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sore itu ketika cahaya matahari berpulang dan terkalahkan oleh senja, seorang wanita berdiri di atas sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput pendek sebagai alasnya. Dia menangis…dia menangisi seorang pria angin, tahukah kalian siapa pria angin itu? Seperti apakah wujudnya? Bagaimana perilakunya?<span id="more-72"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Apa yang telah dia perbuat?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Tak ada suatu yang spesial dari sang pria angin, dia hanya seorang pria biasa, dengan wujud manusia biasa, berkelakuan biasa, namun apa yang telah ia lakukan mungkin berpengaruh terhadap hidup wanita itu, atau mungkin telah cukup meluluh lantahkan perasaan seorang wanita yang baru saja terbuai oleh hembusannya, hembusan kasih sayang dan berbagai variable tentang kasih sayang itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Wanita itu adalah ratu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Ratu yang mungkin paling berkuasa di dunianya, tapi sayangnya ia tidak bisa menguasai angin, dan justru sang pria anginlah yang Nantinya akan menguasainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Lama sudah sang wanita menjadi ratu dalam dunianya sendiri, dia berdiam tegar di atas singgasana hidupnya, tak ada yang berani untuk mengusik ia dan singgasananya. Hingga suatu saat dimana ketegarannya tertiup suatu angin yang di bawa seorang pria, pria antah berantah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Keterusikannya tidak justru menjadi sebuah kekhawatiran, sang wanita justru merasa pria yang tiba-tiba datang ini membawa angin sejuk, kesejukan yang selama ini ia rindukan dia atas singgasananya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Seiring dengan berjalannya waktu, wanita ini benar-benar merasakan jatuh cinta, dan tentu saja ia jatuh cinta pada pria ini, pria angin yang datang dari negeri antah berantah. Sang wanita pun terbuai, melayang dan membumbung tinggi di angkasa. Belum pernah ia merasa sebahagia ini, kekuasaan absolut sang wanita di singgasananya kini telah pudar, kini ia memiliki pendamping, pendamping yang selalu senantiasa membawa kebahagiaan di setiap harinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Namun apa yang tidak pernah ia sangka sebelumnya terjadi, dimana akhirnya sang pria menghilang dari kesehariannya, dia hilang dan menghilang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Kini kerajaan hidupnya telah hancur, luluh lantah terhantam badai kesakithatian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Dia menangisi pria angin, pria angin yang selama ini kehadirannya seperti tetesan embung di panasnya hari, seperti detak jantung dalam kematian, seperti hembusan nafas di setia harinya. Namun pria itu adalah pria angin yang hanya berhembus di satu tempat dan akan terus pergi. Dia menangisi setiap waktu ketika ia di belai sepoyan angin di sore hari. Tak seperti biasanya, angin itu tak datang sore ini. Angin itu telah pergi berganti lembayung yang mengiringi kepergian mentari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Dia menangis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Dia menangisi kebodohannya, kebodohan tidak menjaga keberadaan pria angin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Pria angin dengan segala kesejukan belaiannya di sore hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">(based on someone story)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=72&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/25/pria-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup Dalam Karma</title>
		<link>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/24/hidup-dalam-karma/</link>
		<comments>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/24/hidup-dalam-karma/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 06:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikipedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup dalam karma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dikipedia.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Hidup Dalam Karma “maaf kan aku,aku tidak bisa membuatmu bahagia,begitu pun ayahmu…” permintaan maaf yang di ajukan sang ibu kepada anaknya karena tidak bisa membahagiakan anaknya. Nasib telah mempermalukan wajah si ibu di hadapan dunia,bahkan butiran kata-kata maha dasyat berupa do’a tidak merubah suatu apa pun. Hanya tersisa kenangan –kenangan kejayaan di masa lalu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=67&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Hidup Dalam Karma</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“maaf kan aku,aku tidak bisa membuatmu bahagia,begitu pun ayahmu…” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">permintaan maaf yang di ajukan sang ibu kepada anaknya karena tidak bisa membahagiakan anaknya. <span id="more-67"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Nasib telah mempermalukan wajah si ibu di hadapan dunia,bahkan butiran kata-kata maha dasyat berupa do’a tidak merubah suatu apa pun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Hanya tersisa kenangan –kenangan kejayaan di masa lalu yang kini tidak bisa datang lagi, gemerlap dunia hanya mendatangkan sayatan-sayatan dipermukaan kulitnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang anak terdiam,dia hanya terdiam karena tidak bisa berkata apa pun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Ayahnya tidak lebih dari seeonggok kotoran yang terdapat di pinggir jalan, yang keberadaannya hanya akan menimbulkan perasaan jijik dan muak. sungguh ironis sekali, keadaan sang ayah sekarang bertentangan dengan masa mudanya, tubuh tegap, bergelimang harta, namun sayang dia tidak memiliki ilmu yang sebanding dengan hartanya, yang ia miliki hanya keangkuhan di masa muda yang tak terbendungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“mungkin ini merupakan balasan dari tuhan atas segala perilaku kita di masa lalu…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang ibu mencoba untuk menganalisa nasibnya kepada sang ayah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Maka sang ayah pun mengemukakan pendapatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“kita telah menyimpan bom dalam tubuh kita, bom kesombongan, bom keangkuhan, bom penghinaan dan bom-bom itu kini telah meledak, meluluh lantahkan kehidupan kita!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">“bukan hanya kita,tetapi anak kita juga! Dia tidak berdosa, dia bersih sebagaimana bayi-bayi pada umumnya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Sang ayah dan sang ibu mencoba untuk mencari tahu lebih dalam apa yang mereka lakukan di masa lampau yang telah menimbulkan permasalahan hidup yang sangat pelik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Teringat kenangan lampau yang bisa saja menjadi penyebab terjadinya kesialan mereka,sang ibu teringat akan perilaku masa mudanya, saat itu sang ibu masih berumur 19 tahun, dimana masa-masa itu adalah masa keemasan, karena kecantikan masa dewasanya baru saja muncul, sebelum semua hal tentang hidupnya berbalik 180 derajat. Saat itu seperti kebiasaannya di siang hari, sang ibu masa muda sedang meminum jus stroberi dingin kegemarannya sembari menikmati pemandangan taman depan rumahnya yang di penuhi bunga-bunga <em>crinum giganteum. </em>Tiba-tiba ada seseorang yang mengganggu kebiasaannya di siang hari, dia adalah seorang pengemis lusuh dengan baju compang camping dan wajah yang tentu saja seburuk pakaiannya, bahkan bisa dikatakan lebih parah. Saat itu sang pengemis meminta uang sekedarnya dari sang ibu, namun perilaku kikir, angkuh, dan tidak berperikemanusiaan dari sang ibu muncul, dengan entengnya sang ibu menyiramkan jus stroberinya tepat pada muka sang pengemis yang mengiba itu. Tanpa menunggu jawaban selanjutnya sang pengemis keluar dari rumah itu dengan perasaan sangat hina, dimana muka kotor karena debu tiba-tiba terasa jauh lebih hina saat sisa-sisa jus itu menempel di mukanya, saat itu sang pengemis menangis sembari membalikkan tubuhnya kembali ke rumah itu dan pandangannya tertuju pada sang ibu, seakan mengatakan “aku menangis bukan karena siraman jus milik mu,dan bukan juga semata-mata karena aku dihinakan serendah-rendahnya. Tetapi aku menangisi nasib yang akan kau terima setelah ini, kesengsaraan yang tak akan pernah kau pikirkan sebelumnya, kehinaan yang jauh berlipat dari yang kau berikan padaku, mungkin kau lupa bahwa suatu saat awan yang indah pun akan berubah dan turun sebagai butiran-butiran hujan, dimana orang-orang tidak terlalu memperhatikannya sebagaimana mereka memperhatikan awan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;">Dan akhirnya sang ibu pun menangis saat ia mengingat kejadian itu, dalam hatinya ia menangis bukan karena ia menjadi miskin, dan hina seperti yang telah pengemis itu katakana, tetapi ia menangis karena memikirkan bagaimana jadinya jikalau karmanya akan diterima juga oleh anaknya yang tidak memiliki dosa apa pun???</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dikipedia.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dikipedia.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dikipedia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dikipedia.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dikipedia.wordpress.com&amp;blog=4211244&amp;post=67&amp;subd=dikipedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dikipedia.wordpress.com/2008/07/24/hidup-dalam-karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1101561d80f81b5da06c0ad740ebc40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikipedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
