kumpulan cerpen

Juli 26, 2008

Kisah Negeri Tikus

Filed under: kisah negeri tikus — dikipedia @ 3:57 am

Kisah Negeri Tikus

Cerpen Dicky Arsyul S

Suatu hari, di pagi hari yang begitu indah dimana burung-burung sedang asik besahutan dan bumi mengeluarkan aroma tanah yang menyegarkan, ada seorang anak berumur sekitar 11-13tahun mengajukan beberapa pertanyaan pada ayahnya “yah,mengapa negeri kita di sebut negeri tikus?” (lagi…)

Juli 25, 2008

Pria Angin

Filed under: pria angin — dikipedia @ 10:33 am

Pria Angin

Cerpen Dicky Arsyul S

Wanita itu menangis, dia sakit hati.

Sore itu ketika cahaya matahari berpulang dan terkalahkan oleh senja, seorang wanita berdiri di atas sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput pendek sebagai alasnya. Dia menangis…dia menangisi seorang pria angin, tahukah kalian siapa pria angin itu? Seperti apakah wujudnya? Bagaimana perilakunya? (lagi…)

Juli 24, 2008

Hidup Dalam Karma

Filed under: hidup dalam karma — dikipedia @ 6:17 am

Hidup Dalam Karma

“maaf kan aku,aku tidak bisa membuatmu bahagia,begitu pun ayahmu…”

permintaan maaf yang di ajukan sang ibu kepada anaknya karena tidak bisa membahagiakan anaknya. (lagi…)

Selamat Pagi, Malam

Filed under: selamat pagi,malam — dikipedia @ 6:13 am

Selamat pagi, malam

Cerpen Dicky Arsyul S

Hampir setiap hari aku memperhatikan malam, parasnya yang cantik dengan dua bola mata berwana coklat telah membuat ombak dalam darahku semakin ganas. Tetapi hampir setiap malam pula aku terbakar oleh api cemburu dan akhirnya aku hangus ketika harus melihat dia yang selalu berpakaian seksi dengan balutan yang sangat minim memasuki rumahnya dengan pria berbeda setiap harinya. (lagi…)

Juli 13, 2008

Malan-Malan Nina

Filed under: Uncategorized — dikipedia @ 3:25 am

Malam-Malam Nina

Cerpen Lan Fang

Ini sudah hari ke empat Nina kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakin mendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun dengan masai lalu duduk termenung. (lagi…)

peradilan rakyat

Filed under: Uncategorized — Tag:, — dikipedia @ 3:16 am

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

“Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.” (lagi…)

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.